Pemakan 'buaya' paling ekspresif dengan kemarahannya akan menjadi pemenang.
|
|
Aksi Anti Korupsi di Bundaran HI : Buaya (ANTARA/Saptono) |
|
VIVAnews - Sejumlah aktivis dari berbagai lembaga swadaya masyarakat akan menggelar lomba makan roti buaya di Senayan pada 22 November 2009. Lomba digelar sebagai kritik atas konflik yang membenturkan kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Penilaiannya sederhana, siapa yang paling ekspresif dan paling marah dialah pemenangnya," kata Chalid Muhammad, Direktur Institut Hijau Indonesia, Jumat, 20 November 2009.
Para aktivis yang berpartisipasi akan melebur dalam bendera Kaum Muda Indonesia. Mereka di antaranya adalah Usman Hamid, Fadli Zon, Direktur Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti; Ketua Umum Pemuda Muhamdiyah, M Izzul Muslimin; Sekjen Himpunan Mahasiswa Islam, Ahmad Nasir; dan Haris Rusly dari Forum Kepemimpinan Pemuda Indonesia (FKPI).
Ray Rangkuti mengatakan, roti buaya sengaja dipilih sebagai simbol kepolisian. Belakangan, buaya memang identik dengan kepolisian. Istilah itu dilontarkan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Susno Duadji dalam sebuah wawancara dengan Majalah Tempo. Susno mengibaratkan buaya sebagai kepolisian, dan cicak sebagai KPK.
• VIVAnews